Iseng Menyebarkan Pesan WA untuk Bunuh Kapolda Metro Jaya

 

Kapolda Bersama Jajarannya

DARINETIZEN - Polda Metro Jaya telah mendalami penyelidikan terhadap S (40), pria yang menyebarkan provokasi melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp ini dengan pesan berisi ancaman membunuh Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. Berdasarkan hasil penyelidikan polisi saat ini, S diketahui menyebarkan seruan provokasi dengan dilatarbelakangi perbuatan iseng atau bercanda saja.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, Senin (14/12/2020) kepada media mengungkapkan bahwa Iya betul setiap kami ungkap didalam penyelidikan ini, pastilah kalimat yang keluar dari tersangka adalah, 'Saya khilaf dan memohon maaf'. Ditanya motif, tidak ada. Cuma keisengan dia saja alias becanda," ungkapnya .

Yusri menjelaskan, penyidik hingga saat ini masih mendalami motif S hingga perannya di dalam grup WhatsApp tersebut tempat beredarnya pesan provokasi bernada ancaman pembunuhan itu kepada Kapolda Metro Jaya.

Yusri juga mengatakan masih mendalami. Siapa si S ini, sepak terjangnya sebagai apa, masih kami dalami semuanya karena kami masih baru melakukan pengungkapan, kata Yusri.

Sebelumnya seperti diketahui bersama bahwa S ditangkap di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, belum lama ini. Polisi menyebut, S mengancam melalui pesan yang tersebar melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp dengan menampilkan foto Kapolda Metro Jaya Fadil yang berseragam lengkap dengan menarasikan sedang dicari.

S menyebarkan ancaman tersebut ke beberapa grup WhatsApp yang ada di ponsel pribadinya. Salah satu dalam penyelidikan tersebut polisi menemukan grup WhatsApp bernama '000Fakta.Berkata' dan 'Media Muslim Indonesia'.

Dalam grup WhatsApp tersebut, S juga menyerukan untuk menyiapkan pasukan yang terlatih hingga pembunuh bayaran untuk membunuh Kapolda Metro Jaya Fadil.

Selain menebarkan pesan yang mengancam, S juga menyebarkan seruan provokatif untuk mencopot Kapolri Idham Azis dan Pangdam Jaya Dudung Abdurachman.

Polisi mengamankan barang bukti dari penangkapan S berupa ponsel milik pribadi, dua simcard, dan tangkapan layar postingan provokasi di grup WhatsApp tersebut.

Akibat perbuatannya tersebut, S diancam dengan Pasal 28 Ayat 2 juncto Pasal 45 A ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Selain itu S juga diancam dengan Pasal 14 dan atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Adapun S terancam enam tahun penjara atau denda paling bayak Satu Miliar Rupiah.

(Fadly/DariNetizen)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama