Mitos Orgasme Pada Pria

Tidak dapat disangkal, pengalaman seksual menggenggam peranan penting di kehidupan, terhitung dalam berpasangan. Sayang, banyak mitos berkaitan dengan orgasme pria yang salah kaprah dan mempengaruhi kehidupan sex tersebut.

Mitos membuat seorang dengan gampang memercayai asumsi umum yang ada di tengah-tengah masyarakat. Mitos seakan jadi pemasti akan suatu hal yang disebutkan 'normal'.

$ads={1}

Misalkan, mitos yang menyebutkan jika ukuran alat kelamin pria atau penis mempengaruhi perform seksual. Ada pula yang memandang jika ejakulasi dini tidak bisa sembuh. Walau sebenarnya, keduanya tidak benar.

1. Ukuran penis mempengaruhi kepuasan seksual

Buah pikiran jika penis yang semakin besar selalu lebih bagus sudah lama exist di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, ukuran penis sebenarnya tidak jadi cerminan langsung terhadap kepuasan seksual.

"Umumnya pria baik saja dalam soal ukuran dan ketebalan penis. Tetapi, saat mereka menghitung diri dengan yang diperlihatkan industri film dewasa, mereka mungkin merasa tidak aman," tutur pakar urologi, Hamin Brahmbhatt.

Umumnya panjang penis sendiri sekitar di antara 9 cm saat normal dan 13 cm saat ereksi.

Brahmbhatt menjelaskan, ke orang sehat, ukuran penis semestinya tidak mengurangi kepuasan seksual.

2. Minum suplemen untuk dapat ereksi kembali sesudah ejakulasi

Banyak pil ada di pasar yang prospektif sanggup turunkan masa refraktori. Refraktori merupakan lama waktu yang diperlukan sesudah ejakulasi supaya bisa ereksi kembali.

Akan tetapi, tidak ada bukti ilmiah yang memperlihatkan jika suplemen-suplemen itu betul-betul bekerja dengan menurunkan kadar hormon prolaktin. Kandungan hormon prolaktin dipercayai bisa membuat masa refraktori berjalan semakin lama.

Riset pada tikus menemukan, prolaktin tidak menjadi pemasti masa refraktori. Tidak ada ketidaksamaan di antara tikus yang memperoleh prolaktin dengan yang tidak memperoleh prolaktin.

3. Testis membiru dapat mematikan

Memang mengerikan saat menyaksikan testis membiru dan berasa sakit. Hal tersebut memunculkan rasa tidak nyaman pada penis.

Kesan itu pada intinya jadi tanda-tanda dari keadaan yang disebutkan hipertensi epididimis. Tetapi, keadaan itu tidak akan memunculkan resiko kerusakan permanen, apa lagi memberikan ancaman jiwa.

Hipertensi epididimis terjadi saat seorang mempunyai darah berlebihan yang masih ada di testis dari gelombang ereksi yang diikuti oleh ejakulasi.

Umumnya, saat seorang pria terangsang, darah akan mengalir ke penis dan mengakibatkan ereksi. Bila pria alami ejakulasi, darah balik ke tingkat normal. Tetapi bila tidak, testis akan membiru.

Dalam beberapa kasus, tanda-tanda permasalahan yang lebih serius bisa disalahpahamkan sebagai testis yang membiru. Maka penting untuk konsultasi dengan medis bila sensasi itu tidak juga lenyap.

4. Pria dapat alami lebih satu orgasme pada sebuah waktu

Beberapa wanita bisa alami orgasme beruntun saat berhubungan seksual tanpa istirahat. Tetapi, bukan bermakna pria tidak dapat alami hal sama.

Seksolog Justin Lehmiller menjelaskan, salah satu argumen yang membuat pria cuman dapat alami satu orgasme ialah masa refraktori. "Lama waktunya masa ini dapat benar-benar beragam pada pria. Ada yang cuman perlu waktu beberapa waktu, ada juga yang dapat beberapa saat," tutur Lehmiller.

Tetapi, beberapa pria di-claim dapat orgasme tanpa ejakulasi. Maka bukanlah hal yang mustahil bila pria dapat alami seringkali orgasme. Sebuah study pernah mendapati, pria sanggup alami orgasme beruntun pada sebuah masa.

5. Ejakulasi dini tidak dapat sembuh

Ejakulasi dini jadi permasalahan umum yang dirasakan pria. Sekitar 1 dari 3 pria pernah merasakan ejakulasi dini.

Tetapi, ejakulasi dini dapat ditangani dengan bantuan cream topikal, kondom, dan beberapa obat. Beberapa kondom dan cream memiliki kandungan beberapa bahan yang bisa menurunkan kesensitifan penis untuk menahan ejakulasi dini.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama