Tengku Zulkarnain Kritik Kebijakan Bank Indonesia (BI) Terkait Kredit Motor dan Rumah

(Tengku Zulkarnain)
darinetizen.com, Jakarta – Tengku Zulkarnain sebagi tokoh oposisi mengkritik cara Bank Indonesia (BI) yang memberikan kemudahan kredit motor dan rumah dengan DP 0 persen. Menurut Tengku berhutang bukanlah kabar gembira, malahan barang yang dibeli dengan hutang itu adalah barang tipe konsumtif.

Tengku menduga para pejabat di Indonesia sudah terjangkit penyakit hutang dan bermental penghutang sehingga hutang diberi kemudahan di negeri ini.

$ads={1}

“Hutang dibilang kabar gembira?

Barang yg dihutang utk konsumsi pula.

Apakah pejabat kita sdh ketularan penyakit mental hutang?

Hadeuuh,” dilansir dari akun twitter Tengku Zul , Jumat (19/2/2021).

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara resmi mengesahkan aturan kebijakan uang muka (Down Payment) nol persen untuk kredit kendaraan bermotor. Kebijakan itu sendiri akan mulai diberlakukan 1 Maret yang akan datang.

"Ini berlaku efektif 1 Maret 2021 hingga akhir tahun ini" ucap Fery lewat keterangan resminya, Jumat (19/2/2021).

Menurut gubernur BI, kemudahan uang muka kredit kendaraan bermotor 0 persen ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor industri otomotif. Insentif inipun aktif untuk semua jenis kendaraan.

"Ini untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor otomotif dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko," ungkapnya.

Dipaparkan lebih lanjut, dalam hal menjaga prinsip kehati-hatian, kelak tidak semua bank bisa memberikan fasilitas DP nol persen, BI akan memberikan ketetapan khusus semata-mata kepada Bank-bank yang memenuhi kriteria NPL/NPF.

"Cuma bank yang memenuhi kriteria NPL/NPF NPF tertentu yang sanggup menyalurkan kredit dengan insentif baru tersebut," tegas Gubernur BI.

Mengenai bank yang dimaksud ialah bank yang mencatatkan posisi rasio kredit macet NPL atau NPF di bawah 5 persen.

Bukan hanya di sektor otomotif saja, menurut gubernur BI ini, BI juga mempermudah aturan pembiayaan kredit untuk sektor properti menjadi 100 persen atau kredit

"Pelonggaran rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti (rumah tapak, rumah susun, maupun ruko/rukan)," ungkapnya.

"Hal ini akan berlaku efektif dari 1 Maret 2021-31 Desember 2021," pungkasnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama