Peneliti WHO Ungkap Hasil Investigasi Asal Usul Corona

Seorang ilmuwan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan hasil investigasi berkaitan asal mula virus corona. Menurut dia, sesudah kerjakan interograsi beberapa bulan, WHO pada akhirnya mendapati lokasi yang jadi asal mula penebaran virus corona. Beberapa penyelidik WHO sudah mendapati, peternakan hewan liar di Tiongkok kemungkinan sebagai sumber wabah COVID-19 ini.

Peter Daszak, pakar ekologi penyakit WHO, mengutarakan peternakan-peternakan satwa liar, yang banyak salah satunya ada di seputar propinsi Yunnan di Tiongkok selatan, kemungkinan sudah menyuplai hewan-hewan mereka ke beberapa pedagang di Pasar Grosir Seafood Huanan di Wuhan, tempat kasus awalnya COVID-19 diketemukan di akhir 2019 lalu. Sebagian dari hewan liar itu kemungkinan terjangkit SARS-CoV-2 dari kelelawar di wilayah itu.

Diambil dari Live Science, WHO diprediksi akan melaunching laporan penemuannya ini dalam beberapa minggu kedepan.

Pada Januari 2021, team pakar WHO sudah lakukan perjalanan ke Tiongkok untuk menyelidik bagaimana wabah mematikan --yang saat ini sudah mengontaminasi lebih dari 120 juta orang dan tewaskan lebih dari 2,6 juta orang di seluruh dunia-- pertama kalinya berawal. Banyak teori konspirasi sudah menebar berkaitan asal mula virus corona, terhitung jika virus itu bisa lolos dari laboratorium Wuhan. Bulan kemarin, beberapa penyelidik WHO sudah menepiskan isu itu.

Kesepakatan umum yang dipercaya beberapa periset dunia ialah virus corona pertama kalinya tersebar di kelelawar dan menyebar ke manusia, kemungkinan lewat spesies mediator. Itu persisnya yang diketemukan oleh hasil investigasi WHO: Virus itu kemungkinan disebarkan dari kelelawar di Tiongkok selatan ke hewan di peternakan satwa liar, dan ke manusia.

Peternakan satwa liar ialah sisi dari project yang sudah dipropagandakan pemerintahan Tiongkok sepanjang 20 tahun untuk mengusung warga perdesaan keluar dari kemiskinan dan menutup ketimpangan perdesaan-perkotaan, menurut Daszak seperti diambil dari NPR.

"Mereka ambil hewan-hewan eksotis, seperti musang, landak, trenggiling, anjing rakun, dan tikus bambu, dan mereka mengembangbiakkannya di penangkaran," kata Daszak ke NPR.

Tetapi pada Februari 2020, Tiongkok menutup peternakan itu, kemungkinan karena mereka menduga jika itu ialah sisi dari lajur penyebaran virus dari kelelawar ke manusia, kata Daszak. Pemerintah Tiongkok mengirim perintah ke beberapa peternak mengenai bagaimana mengubur, membunuh, atau membakar hewan dengan tidak menebarkan penyakit, tutur Daszak.

Beberapa dari peternakan di Tiongkok Selatan ini mengembangbiakkan hewan yang bisa bawa virus corona, terhitung musang, kucing, dan trenggiling. Sejumlah besar berada di atau dekat Propinsi Yunnan, tempat beberapa periset awalnya mendapati virus kelelawar yang 96% serupa dengan SARS-CoV-2. Tetapi WHO belum juga ketahui hewan apa yang bawa virus dari kelelawar ke manusia.

"Saya berpikir SARS-CoV-2 pertama kalinya serang beberapa orang di Tiongkok Selatan. Nampaknya semacam itu," kata Daszak ke NPR. WHO mendapati bukti jika peternakan satwa liar ini menyuplai hewan ke beberapa pedagang di Pasar Grosir Seafood Huanan.

"Tiongkok menutup lajur itu karena satu argumen," papar Daszak. Yaitu, mereka kemungkinan memikir jika ini ialah lajur penyebaran yang paling kemungkinan, yang akan diambil kesimpulan oleh laporan WHO, ujarnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama