Lumpuh Selama Berpuluh Tahun, Kyai Alim Ini Tidak Pernah Hajat

Lumpuh Puluhan Tahun Tidak Pernah Hajat

Simbah Kyai  Rahmat merupakan kyai alim tetapi tidak suka berdalil. Semenjak umur 20-an tahun kyai asal Magelang Jawa tengah ini lumpuh, hingga beliau wafat pada hari Senin malam Selasa selepas Maghrib, yang bertepatan dengan tanggal 27 Dzulqo’dah 1426 H atau tanggal 19 Februari tahun 2004. Beliau lumpuh bukan karena musibah, akan tetapi disebabkan oleh keletihan karena aktifitas ngaji beliau yang dilakukan dengan menempuh perjalanan jauh dengan jalan kaki setiap hari selama bertahun- tahun. Kyai yang gemar mengaji ini tergolong anak dari seorang kyai di kampung yang kurang mampu. Orangtua Mbah kyai Rahmat tidak mampu untuk membiayai mondok ataupun sekolah. Akan tetapi semangat ngaji Mbah Rahmat kecil tidak dapat dibendung. Demi mendapatkan ilmu, semenjak kecil beliau rela berjalan kaki saben hari tanpa kenal lelah, menuju berbagai majelis pengajian yang diadakan oleh para kiai alim yang dikenalnya. Mbah Rahmat kecil selalu memulai ngaji pada pagi hari ke majelis kyai yang berada di kecamatan sebelah, sambal membawa kitab kuning. Kemudian pada siang harinya, dilanjut lagi berjalan kaki ke pengajian kitab lain yang diadakan kyai yang lain. Sore harinya pun demikian. Bayangkan, aktifitas ini merupakan rutinitas Mbah Rahmat kecil setiap hari, dan berjalan selama bertahun- tahun tanpa kenal lelah.

Suatu hari, kemungkinan karena terlalu lelah, kaki Mbah Rahmat kecil tiba-tiba tidak dapat digerakkan sama sekali. Sementara itu, beliau masih merasa mempunyai kewajiban untuk terus mengaji. Sehingga salah satu Guru ngaji beliau menganjurkan supaya Mbah Rahmat muda untuk “ngasahi” ( membuat catatan makna/arti pada kitab kuning ) sambil berbaring saja. Semenjak mengalami kelumpuhan tersebut, Mbah Rahmat menyudahi keliling untuk mendatangi berbagai majelis pengajian yang diadakan di berbagai wilayah Magelang. Semenjak saat itu beliau menggelar ngaji sendiri di pesantrennya, Darul Muhtadin, di Wonoroto, Magelang ( Pesantren ini berdiri tahun 1966). Walaupun sambil tiduran di atas kasur, Kiai Rahmat tak kenal lelah mengajar santri- santrinya, baik secara “bandongan” ataupun “sorogan”. Uniknya, dikala sorogan, dalam satu waktu, Mbah Rahmat bisa mengoreksi 2 santri sekaligus, Padahal santri tersebut memegang 2 judul kitab yang berbeda.

Dikala para santri lagi merenovasi rumah serta pesantren, dia pula dapat memerankan diri selaku pengawas bangunan yang cermat. Bayangkan, dari atas kasur, sembari berbaring, Kiai Rahmat masih dapat memperingatkan tukang batu kalau proyeknya dikira kurang cocok, tidak cocok serta lain sebagainya. Sesekali santri dipanggil ke ndalem buat diberi arahan renovasi. Sementara itu, dia sama sekali tidak sempat memahami sketsa posisi yang lagi dibentuk itu. Sehabis seluruh renovasi berakhir, terdapat satu bagian rumah yang terencana ditinggalkan tidak turut kena renovasi. Santri segan mengutarakan iktikad hendak merenovasi atap rumah Kiai Rahmat sebab bagi mereka, menaiki atap yang di bawahnya terdapat kiai lagi tiduran lumpuh dikira suul adab ( tidak sopan). " Piye, ape ngapiki payon? Rapopo. Tak tutupi awakku nganggo kemul ngko ( Gimana, ingin merenovasi atap. Tidak ada permasalahan. Saya tutup diri dengan selimut nanti)," jawab Kiai Rahmat kepada santri yang matur ke dia. Tidak diketahui, dikala para santri mulai memanjat atap, genteng diambil seluruh, Kiai Rahmat nyatanya telah tidak terletak di dasar atap tersebut. Dia raib dari atas pembaringan, seakan ditelan angin tidak bertuan. Tidak terdapat seseorang juga yang berani menanyakan kejadian itu ke dia. Orang- orang cuma ketahui Mbah Rahmat tidak pernah mandi ataupun ke wc utk buang hajat. Tetapi anehnya, dia tidak berbau, juga mukanya senantiasa memancarkan nur serta masih makan- minum semacam manusia biasa. Saking terpelihara wudlunya, Mbah Rahmat cuma memperbaharui wudlu masing- masing 15 hari sekali.

Keponakan Kiai Rahmat yang hendak ceramah di orang sebelah desanya seketika mampir silaturrahim. Saat sebelum pamit, dia memohon air berkah doa biar tidak berkemih serta berak semacam Kiai Rahmat. Dia ini gampang qadlil hajat dikala berjumpa hawa dingin. Air doa diminum. Ceramahnya mudah tanpa tersendat berkemih ataupun berak di tengah ngaji. Satu minggu setelah itu, santri dari keponakannya itu seketika tiba memohon air doa." Loh, kan telah didoakan kemarin," ucap Kiai Rahmat. " Iya, kiai, tetapi saat ini dia takut sebab semenjak ngisi pengajian di wilayah mari dia tidak bisa lagi buang hajat. Kali ini  mohon doa biar dia dapat berkemih semacam manusia biasa".

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama